PEKANBARU, RIAUBERTUAH.ID – Bertempat di ‘Semut Hitam Cafe’ Aliansi Mahasiswa dan Pemuda se-Riau sepakat untuk membentuk Tim Satgas Covid-19 Independen Sabtu (26/09/2020).
Wacana tersebut muncul dalam acara diskusi publik Aliansi Mahasiswa dan Pemuda se-Riau yang mengangkat tema membongkar Aliran Dana APBD 481 M dalam Penanganan Covid-19 sesuai untuk peruntukanya.
Koordinator Umum Aliansi Pemuda dan Mahasiswa se-Riau Zulkardi mengatakan wacana tersebut muncul karena mengingat Provinsi Riau saat ini berada di peringkat pertama penyebaran Covid-19 di pulau Sumatera, bahkan secara nasional Riau selalu masuk lima besar penambahan kasus baru harian.
"Jadi kami pemuda dan mahasiswa beranggapan gubernur tidak menempatkan orang-orang yang berkompeten dalam menangani Covid-19," sampai Zulkardi.
“Berangkat dari kekecewaan kami yang teramat dalam kepada pemerintah daerah Riau dalam mengelola dana rakyat ini kami akan segera bentuk Tim Satgas Covid-19 Independen, kami ingin transparansi anggaran,” lanjut Zulkardi.

Diskusi ini dihadiri juga oleh akademisi sekaligus praktisi hukum Yusuf Daeng dan juga anggota DPRD Riau Ade Hartati. Mereka mendukung wacana para pemuda dan mahasiswa tersebut.
Menurut Ade Hartati yang juga merupakan Sekretaris Fraksi Partai PAN yang sekaligus anggota Komisi V DPRD Riau ini mengatakan bahwa pembentukan Satgas Independen Covid-19 ini sah-sah saja, bahkan hal tersebut bisa sebagai fungsi kontrol terhadap pemerintah dalam menangani Covid-19.
"Ini bisa menjadi kontrol sosial terhadap pemerintah dan legislatif, karena anggaran yang tersisa ini baik dari hasil pergeseran sehingga terdapat anggaran sebesar Rp 481 miliar masih ada sisa anggaran sekitar Rp 234 miliar dan belum lagi sisa anggaran setiap Satker sesuai surat keputusan dua menteri," jelasnya.
“Kita semua berharap pemerintah Riau jangan selalu terlena dengan berada di zona nyaman, hingga lambat dalam menangani covid-19 ini,” ucap Ade.
“Keluarlah dari zona nyaman agar pemerintah mampu mempunyai perencanaan saat ini terlihat pasca PSBB, pemerintah tidak mampu memetakan total masyarakat yang akan terjangkit,” imbuh anggota legislatif perempuan ini.
Sedangkan Yusuf Daeng saat diminta berbicara didalam arena diskusi ini tampak sangat antusias bisa hadir ditengah-tengah anak-anak milineal yang kritis.
“Saya secara pribadi sangat mendukung kegiatan kalian sebagai anak-anak milineal, namun jangan sampai kegiatan ini dimotori oleh pihak tertentu,” kata Yusuf.
“Jadikanlah aksi-aksi kalian merupakan aksi yang membangun, karena
disaat saya seusia kalian saya juga punya pengalaman yang sama,”
ungkap Yusuf Daeng. (Teti)


